
Foto bersama Pengelola Pelayanan Puslit Kako Sabtu (29/08/2026) (Foto: LPMM ALPHA)
JEMBER – Lembaga Pers Mahasiswa MIPA (LPMM) ALPHA berkesempatan untuk meliput Kawasan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang dikemas dalam kegiatan “ALPHA News Report” pada hari Sabtu (29/08). Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) berlokasikan di Jalan Renteng, Desa Nogosari, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember. Kawasan ini memadu padankan fungsi penelitian, perkebunan, pengolahan, dan wisata edukasi sehingga tidak hanya menarik pengunjung dari berbagai daerah, tetapi juga wisatawan mancanegara.
Suasana ceria sembari diimbangi dengan tawa pecah anak-anak yang sedang bermain di bawah rindangnya pepohonan yang teduh, serta sebagian berlarian sambil menikmati fasilitas yang disediakan di Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Kawasan yang tak pernah sepi pengunjung ini biasanya menjadi destinasi pilihan untuk kegiatan outing class, rekreasi, hingga perjalanan yang edukatif untuk mengenal kopi dan kakao lebih dekat.
Jauh sebelum menjadi destinasi wisata edukasi, Puslitkoka telah memiliki sejarah panjang dalam pengembangan komoditas kopi dan kakao di Indonesia. Lembaga ini didirikan sejak 1 Januari tahun 1911, hingga saat ini lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan penelitian dan pengembangan kopi arabika, kopi robusta, serta kakao. Sekitar tahun 2014–2015 dan, kawasan penelitian tersebut mulai menemukan “wajah” lain yaitu sebagai wisata edukasi yang kemudian diresmikan pada tahun 2016 oleh Menteri Pertanian Indonesia. Wisata edukasi ini dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal kopi dan kakao secara langsung, mulai dari budidaya hingga proses pengolahan.
Pengalaman pengunjung dimulai pada saat berkeliling untuk mengenal berbagai jenis tanaman kopi dan kakao sekaligus melihat lingkungan tempa komoditas tersebut dibudidayakan. Perjalanan pengunjung tampak menyenangkan karena tersedianya akomodasi transportasi sehingga pengunjung tidak perlu resah untuk mengeksplor kawasan Puslitkoka. Perjalanan seru dimulai ketika angin berhembus di sore yang tenang sembari melihat dan menikmati pemandangan perkebunan yang asri. Di sela perjalanan menyususri perkebunan, kawasan rusa tampak berlarian di antara pepohonan hijau. Gerakannya yang lincah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung sekaligus memperkuat suasana alami yang terasa di kawasan Puslitkoka.
Tidak hanya melihat tanaman dari dekat, pengunjung juga diajak mengenal perjalanan komoditas tersebut setelah dipanan. Dari perkebunan, perjalanan dilanjutkan menuju pabrik untuk melihat proses pengolahan kopi dan kakao hingga menjadi produk jadi.
Pengelola Layanan Informasi, Sohit menjelaskan, “Salah satunya untuk mengenalkan kopi dan kakao kepada masyarakat sejak dini, khususnya melalui kunjungan sekolah dan yayasan.” Konsep tersebut membuat kunjungan tidak hanya terhenti pada kegiatan rekreasi saja tetapi pengunjung juga dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung.
Selain perkebunan dan pabrik, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao juga memiliki sejumlah fasilitas pendukung wisata, seperti penangkaran rusa dan merak, serta wahana rekreasi berupa kolam renang dan flying fox. Keberadaan fasilitas tersebut membuat kawasan ini tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang rekreasi bagi keluarga dan pelajar dengan suasana yang lebih santai.
Fasilitas yang ditawarkan juga dirasakan oleh Yolanda, salah satu pengunjung dalam kegiatan outing class. Ia menilai bahwa kawasan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao ini memiliki lingkungan yang luas, nyaman, dan ramah bagi anak-anak. Daya tarik yang dirasakan Yolanda salah satunya yaitu adanya ice cream yang dalam pembuatannya masih menggunakan cara yang sederhana dan tradisional sehingga menciptakan rasa aman jika di konsumsi oleh sang “buah hati”.
Meski menilai fasilitas secara umum sudah baik, Yolanda memberikan catatan terhadap sejumlah fasilitas yang dinilai perlu diperbarui, salah satunya kereta wisata.
Perkembangan wisata Pusat Penelitian Kopi dan Kakao ternyata sempat mengalami penurunan ketika pandemi COVID-19 yang berlangsung selama kurang lebih dua tahun. Sejumlah wahana mengalami kerusakan, sehingga pengelola kini melakukan pembenahan secara bertahap.
Upaya pembenahan terus dilakukan untuk mengembalikan kenyamanan pengunjung sekaligus meningkatkan daya tarik wisata. Di tengah proses tersebut, Pusat Penelitian Kopi dan Kakao tetap menjadi pilihan bagi masyarakat untuk berwisata, sekaligus mengenal kopi dan kakao secara langsung. Hal tersebut terlihat dari para pengunjung yang hadir, salah satunya wisatawan asal Malaysia. Kehadiran pengunjung dari berbagai latar belakang ini menjadi bagian dari dinamika Pusat Penelitian Kopi dan Kakao sebagai kawasan wisata edukasi yang mampu menarik minat pengunjung dari berbagai daerah.
Di tempat ini, perjalanan secangkir kopi dan sebatang cokelat tidak lagi sekadar cerita tentang produk yang sampai ke tangan konsumen. Pengunjung dapat melihat jejaknya sejak dari kebun, mengenal proses pengolahannya, sekaligus menikmati perjalanan wisata yang mempertemukan pengetahuan, alam, dan rekreasi dalam satu kawasan.
